Ruang terbuka hijau (RTH) di kota tidak selalu berupa taman. RTH dapat berbentuk area atau jalur yang memanjang maupun mengelompok, digunakan secara lebih terbuka, dan ditumbuhi tanaman yang tumbuh alami atau sengaja ditanam [1]. Jadi, nama sebuah tempat saja belum cukup untuk mengenali ragamnya: bentuk, tanaman, dan cara ruang itu digunakan ikut memberi gambaran.
Bentuk RTH lebih luas dari taman
Bentuk memanjang dan mengelompok menawarkan cara berbeda untuk membaca ruang. Jalur yang memanjang dapat dipertimbangkan sebagai tempat untuk bergerak atau melintas, sedangkan area yang mengelompok bisa menjadi kandidat untuk berhenti atau berkumpul. Ini pertimbangan berdasarkan bentuk, bukan jaminan bahwa setiap lokasi memiliki fasilitas tertentu.
Asal tanaman juga tidak menjadi satu-satunya pembeda. Pengertian RTH mencakup tanaman yang tumbuh alami maupun yang sengaja ditanam [1]. Dengan kata lain, ruang hijau tidak harus terbentuk lewat satu cara penanaman saja.
Bentuk dan kategori menjawab hal berbeda
Memanjang atau mengelompok menjelaskan wujud ruang; publik atau privat merupakan kategori lain yang juga disebut dalam keterangan mengenai RTH. Sumber mencatat proporsi RTH di wilayah perkotaan minimal 30%, terdiri atas 20% RTH publik dan 10% RTH privat [1]. Pembedaan ini berguna saat menimbang tempat: selain melihat bentuknya, perhatikan pula kategori ruang yang sesuai dengan rencana penggunaan.
Fungsi ruang hijau di kota
Tujuan RTH mencakup menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air, menyeimbangkan lingkungan alam dan lingkungan binaan, mendukung kepentingan masyarakat, serta mereduksi polutan dan menjaga ekosistem [1]. Keterangan sumber juga mengaitkan RTH dengan lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih [1]. Jadi, fungsinya tidak terbatas pada menyediakan tempat untuk kegiatan warga.
Menimbang tempat untuk beristirahat, bergerak, atau berkumpul
Untuk memilih ruang sesuai kegiatan, bentuk bisa menjadi petunjuk awal. Pertimbangan berikut merupakan cara membaca kemungkinan penggunaan, bukan kepastian bahwa setiap RTH menyediakan fasilitas tertentu:
- Untuk beristirahat, area yang mengelompok dapat dipertimbangkan sebagai titik untuk berhenti sejenak.
- Untuk bergerak atau melintas, jalur yang memanjang dapat menjadi pilihan untuk dipertimbangkan berdasarkan bentuknya [1].
- Untuk berkumpul, area yang mengelompok dapat dibaca sebagai kandidat tempat bertemu. Periksa pula kategori publik atau privatnya saat menilai apakah ruang itu sesuai dengan rencana penggunaan.
Ruang hijau kota, dengan demikian, dapat dikenali lewat lebih dari satu ciri: pola bentuk, keberadaan tanaman, dan kategori ruangnya. Menghubungkan ciri-ciri itu dengan kegiatan membantu membedakan tempat untuk jeda, pergerakan, atau pertemuan tanpa menganggap semua ruang memiliki fungsi dan fasilitas yang sama.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Ruang terbuka hijau. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=27910585&title=Ruang_terbuka_hijau (diakses 2026-10-03).